IQRO

Menemukan Keseimbangan Hidup Melalui "Ngaji IQRO" di Serambi Masjid Al Amin
Bagi seorang pria dewasa, waktu selepas salat Isya sering kali menjadi ruang transisi yang bising. Setelah seharian bergelut dengan penatnya pekerjaan, mencari nafkah, dan memikirkan urusan duniawi, pikiran membutuhkan sebuah pelabuhan untuk beristirahat. Namun, istirahat terbaik bukanlah dengan mengasingkan diri, melainkan dengan menutrisi kembali ruang spiritual yang mulai kering. Di Pasekan, jawaban atas kebutuhan sosioreligius itu hadir secara bersahaja namun mendalam di serambi Masjid Al Amin melalui sebuah gerakan bernama Ngaji IQRO.
IQRO di sini bukan lagi sekadar mengeja huruf hijaiyah lembar demi lembar seperti masa kecil kita dulu. Ia telah bertransformasi menjadi sebuah akronim gerakan yang matang Ngaji IQRO (Ilmu Quran Rileks dan Optimal). Diikuti oleh jamaah bapak-bapak, kegiatan yang digelar seminggu dua kali—setiap Selasa malam Rabu dan Jumat malam Sabtu—ini menjadi penanda bahwa belajar ilmu agama tidak mengenal batasan usia. Mulai bakda Isya hingga pukul 21.00 WIB, serambi masjid berubah menjadi ruang diskusi yang hidup, hangat, dan jauh dari kesan kaku.
Keunikan utama dari Ngaji IQRO ini terletak pada cakupan materinya yang seimbang. Para jamaah bapak-bapak tidak hanya diajak mengupas ayat-ayat kauliyah—yakni teks-teks tertulis Al-Quran beserta hukum tajwid dan tafsirnya—tetapi juga diajak membaca ayat-ayat kauniyah. Jamaah diajak mentadaburi alam semesta, membaca fenomena sosial, serta peristiwa kehidupan sehari-hari demi menebalkan keimanan. Pendekatan dwitunggal ini membuat Islam terasa sangat membumi, kontekstual, dan solutif bagi problematika yang dihadapi para kepala keluarga di era modern.
Sesuai dengan namanya, kata kunci dari keberhasilan program ini adalah Rileks dan Optimal. Di bawah bimbingan para ustadz kompeten, baik yang berasal dari internal wilayah Pasekan maupun guru-guru hebat dari luar daerah, suasana mengaji dibangun dengan penuh keakraban. Ada tawa yang sesekali pecah, ada ruang untuk bertanya tanpa takut dihakimi, dan ada segelas teh nasgitel atau kopi pahit kadang juga jahe hangat yang menemani. Namun, di balik atmosfernya yang santai dan rileks, kualitas keilmuannya tetap dijaga secara optimal dan terukur. Progres pemahaman jamaah dipastikan berjalan ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, Ngaji IQRO di Masjid Al Amin adalah sebuah oase yang membuktikan bahwa kesalehan seorang pria tidak harus dibangun dengan ketegangan atau formalitas yang menjemukan. Melalui obrolan-obrolan bermutu di serambi masjid, bapak-bapak di Pasekan sedang membangun fondasi keluarga yang kokoh. Sebab, ketika seorang bapak pulang ke rumah pada pukul sembilan malam dengan hati yang rileks dan pikiran yang dipenuhi cahaya ilmu Al-Quran, ia sedang membawa berkah terbesar untuk istri dan anak-anaknya.